Ciri-Ciri Ahli Bidah dalam Menuduh Ahlus Sunnah
Ciri-Ciri Ahli Bid’ah dalam Menuduh Ahlus Sunnah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Syarhus Sunnah karya Imam Al-Barbahari Rahimahullah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Iqbal Gunawan, M.A Hafidzahullah pada Rabu, 26 Dzulqa’dah 1447 H / 13 Mei 2026 M.
Kajian Islam Tentang Ciri-Ciri Ahli Bid’ah dalam Menuduh Ahlus Sunnah
Apabila seseorang berbicara tentang tauhid namun yang dimaksud adalah menafikan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, hal itu merupakan ciri kaum Khawarij dan Muktazilah. Selain itu, jika seseorang menuduh orang lain sebagai pengikut Jabariyah karena berbicara tentang takdir, atau sebaliknya, mengharuskan Allah wajib berbuat adil menurut akal manusia, maka itu adalah ciri kaum Qadariyah. Istilah-istilah tersebut merupakan perkara baru yang diada-adakan oleh ahli bid’ah.
Konteks Tuduhan Rafidah dan Pembelaan terhadap Ahlul Bait
Imam Al-Barbahari Rahimahullah berbicara sesuai dengan konteks zamannya mengenai ahli bid’ah yang marak pada masa itu. Kelompok Rafidhah atau Syiah dikenal membenci bahkan mengkafirkan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka sangat membenci sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, serta istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu Aisyah dan Hafsah Radhiyallahu ‘Anhuma.
Kelompok ini sering menuduh siapa pun di luar golongan mereka sebagai nawasib, yang artinya pembenci Ahlul Bait. Padahal, para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah telah menegaskan dalam kitab-kitab aqidah mengenai kewajiban memuliakan Ahlul Bait, termasuk keluarga Abbas, keluarga Jafar, dan keturunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lainnya. Meskipun Ahlus Sunnah telah menampakkan kecintaan kepada keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang beriman, kaum Rafidhah tetap menganggap kecintaan tersebut tidak sah sebelum membenci para sahabat. Bagi mereka, kecintaan kepada Ahlul Bait harus dibarengi dengan pengkafiran terhadap sahabat-sahabat dekat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Paham Rafidah sebenarnya berasal dari orang-orang yang menyusup ke dalam Islam, seperti kaum Majusi dan Yahudi yang memiliki kedengkian terhadap agama ini. Mereka tidak dapat menghina Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara langsung karena hal itu akan membuat mazhab mereka ditolak oleh masyarakat.
Terdapat upaya licik dari golongan tertentu yang berpura-pura mencintai Ahlul Bait, khususnya Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu dan keturunannya, untuk menipu umat Islam. Sebenarnya, mereka ingin menikam kehormatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara langsung. Namun, karena hal itu akan membuat mereka dibenci oleh kaum muslimin, mereka menempuh cara dengan mengkafirkan dan menghina orang-orang terdekat beliau.
Mereka mencela Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, bahkan menuduh Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berzina, padahal ia adalah wanita yang paling dicintai oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka juga mengkafirkan Hafsah Radhiyallahu ‘Anha, putri Umar bin Khattab. Tindakan ini secara tidak langsung merupakan penghinaan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena mustahil beliau memilih orang-orang buruk sebagai pendamping terdekatnya. Kebusukan hati dan kelicikan ini membuat mereka pantas dihinakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla di dunia dan di akhirat.
Meskipun mereka menuduh Ahlus Sunnah sebagai nawasib atau pembenci Ahlul Bait, kenyataannya buku-buku ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah mewajibkan setiap muslim untuk memuliakan keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka yang beriman di antara Ahlul Bait memiliki hak untuk dihormati lebih daripada kaum muslimin lainnya.
Karakteristik Jahmiyyah dalam Menolak Sifat Allah
Tuduhan terhadap Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai musyabbihah atau mujassimah (pihak yang menyerupakan Allah dengan makhluk) merupakan ciri khas pengikut Jahmiyah. Kaum Jahmiyah menolak sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla yang telah ditetapkan-Nya sendiri. Mereka menganggap siapa pun yang menetapkan sifat istiwa (bersemayam di atas Arsy), al-ghadab (murka), an-nuzul (turun ke langit dunia), al-maji’ (datang pada hari kiamat), tertawa, maupun sifat dzatiyah seperti wajah, tangan, kaki, dan mata sebagai orang yang menyamakan Allah dengan makhluk.
Padahal, sifat-sifat tersebut telah disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an dan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits-hadits shahih.
Metode Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah menetapkan semua yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan di dalam Al-Qur’an dan hadits yang shahih. Pengetahuan tentang sifat Allah ‘Azza wa Jalla tidak mungkin dicapai semata-mata melalui akal tanpa bimbingan wahyu. Akal manusia terbatas hanya pada pengolahan data yang pernah diterimanya, sedangkan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah untuk dijadikan perbandingan.
Dalam menetapkan nama dan sifat Allah ‘Azza wa Jalla, terdapat empat batasan yang harus dijaga:
- Tanpa Tahrif: Tidak melakukan penyelewengan atau perubahan, baik pada makna maupun lafaz.
- Tanpa Ta’thil: Tidak menolak atau meniadakan sifat-sifat yang telah ditetapkan. Jika Allah menyebutkan memiliki wajah atau tangan, hal itu harus ditetapkan sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya.
- Tanpa Takyif: Tidak menanyakan bagaimana bentuk atau cara (kaifiyah) sifat tersebut, seperti menanyakan cara Allah turun atau bersemayam.
- Tanpa Tamsil: Tidak menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.
Ahlus Sunnah wal Jamaah berada di tengah-tengah: ketika menetapkan sifat, mereka tidak menyamakan-Nya dengan makhluk, dan ketika mensucikan Allah, mereka tidak menolak sifat-sifat-Nya.
Kaidah utama dalam bab asma wa sifat adalah menafikan adanya keserupaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan makhluk, sekaligus menetapkan (isbat) sifat-sifat yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagai contoh, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat mendengar, sebagaimana makhluk juga mendengar. Namun, pendengaran makhluk disertai dengan berbagai kelemahan dan kekurangan, sedangkan pendengaran Allah sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu mendengar seluruh suara dalam satu waktu dengan berbagai bahasa, permintaan, tempat, dan nada yang berbeda secara bersamaan. Manusia memiliki pendengaran yang sangat lemah karena tidak mampu mendengar suara yang terlalu keras, terlalu pelan, atau saat beberapa orang berbicara secara bersamaan. Allah ‘Azza wa Jalla mendengar semua suara, baik yang kecil, besar, jauh, maupun dekat secara serentak.
Bantahan terhadap Tuduhan Musyabbihah
Pihak-masing yang menuduh Ahlus Sunnah sebagai musyabbihah (penyerupaan Allah dengan makhluk) sebenarnya adalah kaum mu’aththilah (penolak sifat-sifat Allah). Ahlus Sunnah wal Jamaah menetapkan sifat tanpa menyamakan. Allah ‘Azza wa Jalla memiliki tangan, namun tangan Allah tidak sama dengan tangan makhluk. Antar makhluk saja terdapat perbedaan, seperti tangan gajah yang berbeda dengan tangan semut. Jika antar makhluk saja berbeda, maka perbedaan antara Khalik dan makhluk tentu jauh lebih nyata.
Kewajiban setiap muslim adalah menetapkan apa yang Allah tetapkan dalam Al-Qur’an dan yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits-haditsnya tanpa menyelewengkan makna, tanpa menolak, tanpa menentukan bentuknya, dan tanpa menyamakannya dengan makhluk.
Penyimpangan Istilah Tauhid dan Keadilan Mu’tazilah
Pada masa Imam Al-Barbahari, kaum Mu’tazilah menggunakan istilah-istilah yang tampak baik namun memiliki makna yang menyimpang. Istilah “tauhid” bagi mereka berarti menafikan semua sifat Allah ‘Azza wa Jalla karena mereka menganggap menetapkan sifat melazimkan adanya berbilangnya zat yang terdahulu (ta’addudul qudama) atau kesyirikan. Begitu pula dengan istilah “Al-Adil” (Keadilan) yang mereka gunakan untuk menafikan takdir. Bagi Muktazilah, jika Allah mentakdirkan maksiat, hal itu dianggap sebagai kezaliman, sehingga mereka menolak konsep takdir.
Muktazilah juga memiliki prinsip manzilah baina manzilatain, yaitu anggapan bahwa pelaku dosa besar di dunia tidak mukmin dan tidak kafir. Namun, mereka meyakini pelaku dosa besar tersebut kekal di neraka jika meninggal sebelum bertobat. Hal ini berbeda dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang meyakini pelaku dosa besar berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya, dan jika tidak, Dia akan menyiksanya di neraka. Selama masih memiliki iman, hamba tersebut tidak akan kekal di neraka selamanya.
Fitnah Qadariyah terhadap Ahlus Sunnah
Kaum Qadariyah sering menuduh Ahlus Sunnah sebagai Jabariah karena Ahlus Sunnah menetapkan takdir. Mereka menuduh bahwa Ahlus Sunnah menganggap manusia terpaksa dalam berbuat tanpa memiliki pilihan, kehendak, maupun kekuasaan. Tuduhan ini tidak benar karena Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini manusia memiliki pilihan, kehendak, dan kuasa, namun semuanya tidak lepas dari kehendak Allah ‘Azza wa Jalla.
Berbeda dengan sekte Jabariah yang menganggap manusia seperti daun yang ditiup angin tanpa pilihan sama sekali, keyakinan Jabariah yang menganggap manusia tidak memiliki pilihan sama sekali merupakan keyakinan yang sesat. Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa manusia memiliki pilihan, namun pilihan tersebut tidak lepas dari kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui segala sesuatu, baik yang telah, sedang, maupun akan terjadi.
Allah mengetahui apakah seorang hamba akan memilih ketaatan atau kemaksiatan. Berdasarkan pengetahuan-Nya yang azali tersebut, Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk di Lauhul Mahfudz lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah menuliskan takdir-takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim)
Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, baik kebaikan maupun keburukan, tidak lepas dari kehendak Allah ‘Azza wa Jalla berdasarkan pilihan masing-masing makhluk. Allah memberikan kemampuan memilih, dan seseorang hanya akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukan secara sadar tanpa paksaan. Seseorang yang melakukan dosa karena tidak sengaja, dipaksa, atau dalam keadaan tidur tidaklah dicatat sebagai dosa karena ketiadaan pilihan pada saat itu.
Memahami Iradah Kauniyah dan Iradah Syari’ah
Kehendak Allah ‘Azza wa Jalla terbagi menjadi dua, yaitu iradah kauniyah dan iradah syari’ah. Iradah kauniyah mencakup segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, baik yang Allah sukai maupun yang tidak Allah sukai. Tidak ada satu helai daun pun yang jatuh melainkan atas kehendak-Nya. Sementara itu, iradah syari’ah berkaitan dengan apa yang Allah cintai dan perintahkan, seperti keinginan agar manusia beriman, meskipun dalam kenyataannya tidak semua manusia memilih untuk beriman.
Ahlus Sunnah wal Jamaah berada di posisi pertengahan antara Jabariah dan Qadariah. Jabariah menganggap manusia terpaksa tanpa pilihan, sedangkan Qadariah menganggap manusia menciptakan perbuatannya sendiri tanpa campur tangan Allah. Kebenaran yang hakiki adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemampuan memilih kepada hamba-Nya, mengutus para rasul, serta menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk. Namun, pilihan tersebut tetap berada dalam lingkup pengetahuan dan penulisan takdir Allah.
Sikap Mukmin terhadap Takdir
Mengingat tidak ada satupun makhluk, termasuk malaikat Jibril, yang mengetahui isi Lauhul Mahfudz, maka kewajiban setiap muslim adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya sembari meyakini bahwa Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Seorang hamba diperbolehkan memohon kepada Allah agar senantiasa ditetapkan dalam takdir yang baik, sebagaimana doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا
“Ya Allah, jadikanlah semua ketetapan yang Engkau putuskan bagiku adalah kebaikan.” (HR. Ibnu Majah)
Kehati-hatian dalam Mengambil Ilmu
Selanjutnya, Imam Al-Barbahari rahimahullah mengutip perkataan Abdullah bin Mubarak rahimahullah. Beliau merupakan seorang ulama besar yang mengintegrasikan berbagai kebaikan, mulai dari ahli ilmu, ahli ibadah, hingga ahli dalam urusan perdagangan yang jujur. Beliau menekankan untuk tidak mengambil pendapat penduduk Kufah dalam perkara arfad atau keyakinan Rafidah. Hal ini dikarenakan wilayah tersebut, termasuk wilayah Irak dan Iran saat ini, menjadi pusat berkumpulnya pengikut Rafidah yang sering mengajarkan kesesatan mengenai Ahlul Bait dan para sahabat.
Demikian pula peringatan untuk berhati-hati terhadap pemikiran dari Syam pada masa itu yang menjadi tempat berkembangnya paham Khawarij. Paham ini berbahaya karena mengajarkan pemberontakan terhadap penguasa, mengkafirkan sesama muslim, dan menghalalkan darah mereka.
Selain itu, terdapat peringatan untuk tidak belajar masalah takdir dari penduduk Basrah karena kuatnya pengaruh Qadariyah di sana pada zaman tersebut. Begitu pula dengan ahli Khurasan dalam masalah irja (paham Murjiah), yang mengeluarkan amal dari hakikat iman. Kaum Murji’ah beranggapan bahwa iman tidak bertambah dan tidak berkurang, serta amal tidak memiliki pengaruh terhadap iman. Hal ini bertentangan dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang meyakini bahwa iman dapat bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
Menghindari Sikap Mencari Keringanan
Imam Al-Barbahari juga mengingatkan untuk tidak mengambil pendapat penduduk Makkah dalam masalah riba al-fadhl dan penduduk Madinah dalam masalah musik pada masa beliau, karena adanya sebagian ahli ilmu yang bermudah-mudahan dalam perkara tersebut. Meskipun demikian, konteks ini telah berubah pada masa sekarang. Ulama-ulama di Makkah dan Madinah saat ini, khususnya yang mengajar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, adalah rujukan utama Ahlus Sunnah yang wajib diambil ilmunya.
Prinsip utamanya adalah dilarang mengambil pendapat dari pihak yang telah dikenal memiliki penyimpangan dalam bab-bab tertentu, seperti riba, musik, atau khamar. Seseorang yang sengaja mencari-cari fatwa yang paling mudah atau keringanan demi mengikuti hawa nafsu dikhawatirkan dapat terjatuh pada sifat zindiq.
Mencintai Sahabat dan Ulama Salaf sebagai Ciri Ahlus Sunnah
Ciri utama Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah mencintai dan memuliakan seluruh sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini mencakup sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Said bin Zaid, dan Saad bin Abi Waqqash), serta sahabat lainnya seperti Bilal bin Rabah, Abu Hurairah, Anas bin Malik, Usaid bin Hudhair, dan Muawiyah bin Abi Sufyan.
Ahlus Sunnah juga mencintai istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seperti Aisyah dan Hafsah Radhiyallahu ‘Anhuma, serta memuliakan Ahlul Bait seperti Hasan dan Husain. Mencintai mereka adalah bagian dari keimanan. Selain mencintai para sahabat, mencintai para ulama salaf dari kalangan tabi’in dan tabiut tabi’in juga merupakan ciri pengikut sunnah.
Mencintai ulama Ahlus Sunnah merupakan ciri utama pengikut sunnah. Kecintaan kepada Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, serta Al-Laits bin Sa’ad adalah identitas Ahlus Sunnah wal Jamaah. Demikian pula kecintaan kepada ulama seperti Hajjaj bin Minhal dan Ahmad bin Nashr.
Apabila seorang dai atau ustadz senantiasa menukil perkataan para salaf, mulai dari sahabat, tabi’in, hingga tabiut tabi’in, hal itu menunjukkan bahwa ia mengikuti langkah mereka. Mereka mengambil sumber agama dari orang-orang terpercaya dan para imam empat mazhab. Ulama dari zaman ke zaman yang dikenal dengan kebaikannya, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, hingga ulama AhlusSunnah masa kini, merupakan rujukan yang diakui oleh kaum muslimin karena kesalehan, ketakwaan, kewaraan, dan ilmu mereka yang bersumber murni dari Al-Qur’an dan hadits berdasarkan pemahaman salafus saleh.
Waspada terhadap Pengikut Hawa Nafsu
Sebaliknya, jika terlihat seseorang yang gemar bergaul, duduk, dan berdakwah bersama pengikut hawa nafsu serta ahli bid’ah, maka setiap muslim harus waspada. Kelompok yang dimaksud adalah mereka yang menolak, menafikan, atau menyelewengkan sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla, serta membenci para sahabat dan istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, termasuk Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Ilmu tidak boleh diambil dari mereka karena mereka adalah pengikut kesesatan. Umat perlu diperingatkan dari bahaya mereka. Jika seseorang telah diperingatkan namun tetap bersikeras bergaul dan membela kesalahan mereka, hal itu menunjukkan bahwa ia telah menjadi bagian dari pengikut hawa nafsu. Mereka hanya mengikuti apa yang sesuai dengan keinginan hati dan menolak atau mentakwilkan kebenaran yang datang jika bertentangan dengan hawa nafsunya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan di dalam Al-Qur’an:
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ
“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain.” (QS. Al-An’am[6]: 68)
Ketentuan ini sangat tegas bahwa jika seseorang tetap duduk bersama mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah, maka ia dianggap setara dengan mereka.
Pentingnya Memilih Teman Duduk
Memilih teman duduk adalah kewajiban yang menuntut selektivitas tinggi. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan perumpamaan yang sangat jelas mengenai pengaruh teman dalam sabdanya:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ
“Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi.” (HR. Bukhari)
Berteman dengan penjual minyak wangi akan memberikan aroma harum, sementara berteman dengan pandai besi berisiko mencium bau yang tidak sedap atau bahkan merusak pakaian karena percikan apinya. Penyesalan terbesar penduduk neraka di akhirat kelak berkaitan dengan salah memilih teman, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan[25]: 28)
Karakter seseorang dapat dinilai dari siapa teman akrabnya. Seorang teman cenderung mengikuti kebiasaan kawan-kawannya, sehingga sangat penting untuk memastikan bahwa lingkungan pergaulan senantiasa membawa pada ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Bahaya Pengingkar Hadits (Inkarus Sunnah)
Apabila seseorang mendatangi orang lain dengan membawakan hadits dan riwayat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun ia menolaknya dengan alasan hanya ingin mengambil hukum dari Al-Qur’an semata, maka tidak perlu diragukan bahwa orang tersebut adalah seorang zindiq. Kelompok ini dikenal sebagai Quraniun, yaitu orang-orang yang mengaku hanya mengikuti Al-Qur’an dan menolak hadits secara keseluruhan.
Pernyataan bahwa hadits shahih dapat bertentangan dengan Al-Qur’an adalah sebuah kekeliruan pemahaman. Segala sesuatu yang diucapkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersumber dari wahyu Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm[53]: 3-4)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan seluruh hamba-Nya untuk menaati Rasul-Nya melalui firman-Nya:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr[59]: 7)
Setiap muslim wajib menerima Al-Qur’an dan seluruh hadits yang shahih. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ
“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan Al-Qur’an dan yang semisal dengannya (hadits) bersamanya.” (Sumber kitab Shalat dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Perkara-perkara agama secara mendetail seperti tata cara shalat, puasa, zakat, haji, dan umrah tidak dijelaskan secara terperinci di dalam Al-Qur’an, melainkan melalui hadits. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan tugas Rasul-Nya untuk menjelaskan isi Al-Qur’an:
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menjelaskan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An-Nahl[16]: 44)
Dampak Kesesatan Ahli bid’ah
Seluruh ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu pada akhirnya akan berujung pada tindakan yang membahayakan, seperti pemberontakan kepada penguasa dan penumpahan darah kaum muslimin. Mereka cenderung bermudah-mudahan dalam mengkafirkan sesama muslim. Sekte yang dinilai paling parah adalah Rafidah, karena mereka mengkafirkan sahabat mulia seperti Abu Bakar dan Umar. Jika sahabat terbaik saja mereka kafirkan, maka tidak ada lagi kebaikan yang tersisa dalam pandangan mereka.
Kelompok lain yang sangat berbahaya adalah Muktazilah, Jahmiyyah, dan Khawarij. Kesesatan mereka sangat jauh hingga banyak ulama yang mengeluarkan mereka dari Islam. Jahmiyyah, misalnya, menggiring manusia untuk menolak sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla, meyakini iman sekadar mengetahui (makrifat), menganggap manusia tidak memiliki pilihan (Jabariyah), serta menyatakan bahwa surga dan neraka tidak kekal. Mereka juga menolak adanya timbangan amal (mizan) dan membawa banyak kesesatan lainnya.
Sebagai penutup, Imam Al-Barbahari mengingatkan bahwa barangsiapa yang mencela salah satu saja dari sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka pada hakikatnya tujuan celaan tersebut adalah ditujukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Mencela seorang sahabat pada hakikatnya sama dengan mencela Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tidak mungkin Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memilih orang-orang buruk sebagai pendamping beliau. Karena para ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu tidak berani mencela Nabi secara langsung, mereka menyasar para sahabat. Kebencian dan cercaan terhadap para sahabat merupakan tanda nyata bahwa seseorang adalah ahli bid’ah.
Setiap muslim harus waspada terhadap seseorang yang memiliki kebid’ahan, baik besar maupun kecil. Pengikut bid’ah sering kali menyembunyikan kesesatan yang jauh lebih banyak daripada yang mereka tampakkan. Meskipun demikian, kewajiban terhadap orang awam yang hanya ikut-ikutan adalah mengajak mereka ke majelis ilmu agar syubhat yang ada di pikiran mereka hilang. Peringatan keras ini terutama ditujukan bagi tokoh-tokoh yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain.
Perbandingan Antara Ahli Maksiat dan Ahli bid’ah
Seseorang yang memiliki aqidah lurus namun terjerumus dalam kefasikan, dosa, atau kezaliman, kondisinya masih lebih baik dibandingkan dengan pengikut bid’ah. Hal ini dikarenakan ahli maksiat tidak pernah menyandarkan perbuatan buruknya kepada agama. Pelaku zina atau peminum khamar menyadari bahwa perbuatan mereka adalah dosa, sehingga mereka lebih mudah bertobat.
Sebaliknya, ahli bid’ah menyandarkan perkara yang tidak pernah diajarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ke dalam urusan agama. Iblis lebih mencintai bid’ah daripada maksiat karena pelaku bid’ah merasa sedang melakukan kebaikan, sehingga sangat sulit bagi mereka untuk bertobat.
Bahaya Kekaguman pada Ahli Ibadah yang Menyimpang
Seseorang yang terlihat zuhud, giat beribadah, dan sangat bersemangat dalam berderma, namun memiliki pemahaman bid’ah atau penyimpangan akidah, tetap harus dihindari. Umat dilarang duduk bersama, mendengarkan ucapan, atau berjalan bersama mereka. Kekhawatiran utamanya adalah munculnya rasa kagum terhadap semangat ibadah mereka yang kemudian membuat seseorang mengikuti jalan kesesatannya.
Hal ini selaras dengan nasihat Yunus bin Ubaid rahimahullah kepada anaknya. Beliau lebih rida melihat anaknya keluar dari rumah pelaku maksiat daripada keluar dari rumah Amru bin Ubaid, tokoh Muktazilah. Beliau menegaskan bahwa bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membawa dosa besar lebih ringan daripada bertemu Allah dengan membawa kesesatan bid’ah. Pelaku dosa besar cenderung merasa hina dan bersalah di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan pelaku bid’ah sering kali merasa bangga dan merasa sedang membela Islam, padahal ia sedang merusak agama.
Pelaku maksiat tidak serta-merta keluar dari agamanya karena dosanya, tetapi kebid’ahan memiliki potensi besar untuk mengantarkan seseorang pada kekufuran atau keluar dari syariat Islam yang murni. Seorang muslim dilarang berteman dengan pelaku maksiat maupun pelaku bid’ah karena keduanya mendatangkan bahaya bagi agama. Sangat penting bagi setiap individu untuk menjauhi lingkungan yang buruk dan membangun pertemanan dengan orang-orang saleh dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Namun, jika dibandingkan, dampak buruk bergaul dan bergabung dengan ahli bid’ah jauh lebih besar dan berbahaya daripada berteman dengan pelaku maksiat.
Pelaku maksiat tidak menyandarkan kemaksiatannya kepada agama. Sebaliknya, ahli bid’ah menyandarkan perbuatan bid’ahnya sebagai bagian dari agama, sehingga kerusakan yang ditimbulkan menyasar pada pondasi syariat.
Kewaspadaan terhadap ahli bid’ah yang hidup pada zaman sekarang harus ditingkatkan. Jika Imam Al-Barbahari rahimahullah telah memberikan peringatan keras pada masa beliau hidup, maka kondisi pada zaman sekarang menuntut kehati-hatian yang lebih besar karena kerusakan yang terjadi jauh lebih parah. Setiap muslim harus benar-benar selektif dalam memilih teman duduk, memilih guru tempat belajar, serta menyaring dengan siapa ia bergaul.
Barangsiapa yang mencintai, memuji, atau mengikuti jalan tokoh-tokoh ahli bid’ah, maka ia harus diwaspadai. Memuji tokoh-tokoh kesesatan serta menghiasi metode mereka merupakan indikasi kuat bahwa seseorang mengikuti kesesatan tersebut. Beberapa perbuatan ahli bid’ah bahkan dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam jika telah memenuhi syarat-syaratnya.
Berpegang Teguh pada Kebenaran
Pada akhir kitab Syarhus Sunnah, terdapat banyak nasihat agar umat senantiasa waspada terhadap pengikut dan tokoh kesesatan. Hidup pada zaman yang penuh fitnah membuat upaya berpegang teguh pada agama menjadi sangat sulit. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang hamba banyak berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar diberikan keteguhan iman.
Langkah nyata dalam menjaga akidah adalah dengan tidak mendengarkan penjelasan agama kecuali dari orang-orang yang terpercaya, baik dari kalangan ustaz maupun dai yang jelas berpegang pada Al-Qur’an dan hadits.
Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian tentang “Ciri-Ciri Ahli Bid’ah dalam Menuduh Ahlus Sunnah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56250-ciri-ciri-ahli-bidah-dalam-menuduh-ahlus-sunnah/